{"id":28,"date":"2026-09-17T19:09:17","date_gmt":"2026-09-17T12:09:17","guid":{"rendered":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/?p=28"},"modified":"2026-09-28T06:46:20","modified_gmt":"2026-09-27T23:46:20","slug":"kurikulum-internasional-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/id\/kurikulum-internasional-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Kurikulum Internasional: Apa yang Orang Tua Perlu Tahu"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekolah internasional di Indonesia telah berkembang jauh dari tujuan awalnya, yaitu&nbsp; untuk melayani keluarga asing yang tinggal di Indonesia. Kini, pendidikan internasional juga menjadi pilihan bagi keluarga Indonesia yang ingin memberikan&nbsp; pengalaman belajar dalam lingkungan yang lebih global kepada anak-anak mereka. Namun, memilih sekolah internasional bukan hanya tentang bahasa pengantar atau lingkungan sekolah. Salah satu hal yang penting untuk dipahami orang tua adalah kurikulum yang digunakan\u2014karena setiap kurikulum memiliki pendekatan, struktur, dan jalur pendidikan yang berbeda.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa itu kurikulum internasional?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara umum, kurikulum adalah rancangan pembelajaran yang mencakup tentang apa yang dipelajari, bagaimana mempelajarinya, dan apa hasil yang diharapkan&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kurikulum internasional adalah kurikulum yang disusun dan dinilai oleh lembaga di luar Indonesia, dengan sertifikat yang diakui lintas negara. Sekolah yang menjalankannya mengikuti silabus, standar penilaian, dan prosedur ujian yang ditetapkan lembaga tersebut. Ini berbeda dari <strong>sekolah nasional plus<\/strong>. Sekolah nasional plus menjalankan kurikulum nasional Indonesia, lalu menambahkan unsur internasional di atasnya, menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sebagai pengantar dan sebagian mata pelajaran bersertifikat internasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jjenis dokumen kelulusannya juga berbeda. Lulusan sekolah nasional memperoleh ijazah yang diterbitkan berdasarkan sistem pendidikan nasional Indonesia, sedangkan lulusan sekolah internasional umumnya memperoleh sertifikat atau kualifikasi dari kurikulum internasional yang diikuti, seperti Pearson Edexcel, Cambridge, atau IB.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia, lulusan sekolah internasional perlu memastikan bahwa kualifikasi yang diperoleh memenuhi ketentuan yang berlaku di Indonesia. Sebaliknya, lulusan sekolah nasional menggunakan ijazah nasional sebagai dokumen utama untuk melanjutkan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena setiap kurikulum memiliki tujuan dan pendekatan yang berbeda, pengalaman belajar seorang anak juga dapat berbeda meskipun mereka mempelajari mata pelajaran yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah sebabnya, ketika memilih sekolah, orang tua tidak hanya perlu melihat apa saja mata pelajarannya, tetapi juga memahami bagaimana anak akan belajar dan keterampilan apa yang akan mereka kembangkan sepanjang perjalanan pendidikannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada yang lebih unggul di antara keduanya. Yang ada adalah kesesuaian dengan rencana pendidikan anak Anda, dan itu sebaiknya dipikirkan lebih awal karena berpindah jalur di tengah jenjang jauh lebih rumit daripada memilihnya sejak awal.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kurikulum internasional apa saja yang ada di Indonesia?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada beberapa kurikulum internasional di Indonesia yang tidak asing lagi, yaitu:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Cambridge International<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cambridge International adalah badan kualifikasi asal Inggris yang menyelenggarakan jenjang IGCSE untuk usia sekitar 14 hingga 16 tahun dan A Level untuk usia 16 hingga 18 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cambridge memiliki jaringan sekolah penyelenggara paling luas di Indonesia. Namanya juga paling dikenal di kalangan orang tua Indonesia, sehingga paling mudah dijelaskan kepada keluarga besar dan lingkungan sekitar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pola penilaiannya umumnya linear, artinya sebagian besar bobot nilai terkonsentrasi pada periode ujian di akhir program.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pearson Edexcel<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/qualifications.pearson.com\/\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">Pearson Edexcel<\/a> juga berasal dari Inggris dan menawarkan jenjang yang setara, yaitu <a href=\"https:\/\/qualifications.pearson.com\/en\/qualifications\/edexcel-international-gcses.html\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">IGCSE<\/a> dan <a href=\"https:\/\/qualifications.pearson.com\/en\/qualifications\/edexcel-a-levels.html\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">A Level<\/a>. Kualifikasinya dibaca sama oleh universitas, termasuk melalui sistem penerimaan universitas Inggris.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembeda utamanya adalah <strong>penilaian modular<\/strong>. Ujian dapat diselesaikan per unit secara bertahap sepanjang program, sehingga beban tersebar dan peserta didik tidak menggantungkan seluruh hasil pada satu periode ujian akhir. Nilai per unit juga dapat diperbaiki tanpa mengulang keseluruhan program.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jumlah sekolah penyelenggaranya di Indonesia lebih sedikit dibanding Cambridge. Di Yogyakarta, misalnya, Jogjakarta Community School adalah satu-satunya <a href=\"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/\">sekolah kurikulum Pearson Edexcel di Yogyakarta<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>International Baccalaureate (IB)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">International Baccalaureate menempuh jalur berbeda. Program Diploma-nya mewajibkan peserta didik menekuni enam bidang studi sekaligus, ditambah esai panjang dan komponen teori pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cakupannya paling luas dan pelatihan menulis akademis serta risetnya dimulai lebih dini. Reputasinya kuat di universitas selektif, terutama di Amerika Serikat dan Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konsekuensinya, beban kerjanya paling padat, dan kewajiban enam bidang studi memberi ruang lebih sempit bagi anak yang ingin melakukan spesialisasi lebih awal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>IPC (International Primary Curriculum)&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">International Primary Curriculum (IPC) merupakan kurikulum berbasis tematik untuk anak usia sekolah dasar (5\u201311 tahun) yang diterbitkan oleh Fieldwork Education di Inggris. IPC dirancang untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan, interaktif, dan relevan dengan dunia nyata melalui integrasi berbagai bidang studi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">International Primary Curriculum atau IPC, menggunakan pendekatan Tematik dan interdisipliner, di mana pembelajaran tidak dipisah secara kaku berdasarkan mata pelajaran.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses belajar terstruktur juga menjadi&nbsp; ciri khas International Primary Curriculum, dimana setiap tema diawali dengan Entry Point (kegiatan pemantik yang menyenangkan untuk menarik minat anak) dan diakhiri dengan Exit Point (pameran karya\/presentasi siswa untuk menunjukkan pemahamannya), dengan 3 capaian belajar yang diselaraskan yaitu Akademik (pengetahuan &amp; keterampilan subjek), Personal (karakter &amp; kemandirian), serta Internasional (pemahaman budaya &amp; isu global).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Montessori<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendekatan Montessori di Indonesia telah berkembang pesat dari sekadar tren menjadi salah satu pilihan utama orang tua untuk pendidikan anak usia dini (PAUD). Metode yang digagas oleh Dr. Maria Montessori ini berlandaskan filosofi bahwa anak memiliki dorongan alami untuk belajar (<em>absorbent mind<\/em>) jika ditempatkan dalam lingkungan yang tepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam pendekatan Montessori terdapat beberapa ciri khusus, diantaranya Lingkungan yang terstruktur, dimana&nbsp; kelas dirancang khusus sesuai ukuran fisik anak dengan material belajar yang disusun rapi berdasar area aktivitas.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal selanjutnya adalah kebebasan dalam batasan, di mana anak bebas memilih aktivitas namun tetap ada batasan atau aturan dasarnya misalnya merapikan kembali alat peraga yang telah dipakai.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di samping dua hal di atas, model pembelajaran Montessori adalah pembelajaran mandiri dengan eksplorasi langsung. Anak belajar berdasarkan penggunaan berbagai macam alat peraga yang telah disediakan, yang dirancang untuk melatih motorik, sensorik dan logikanya<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Perbandingan Kurikulum Internasional di Indonesia<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara umum, berikut perbandingannya<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th><\/th><th><strong>Kelebihan<\/strong><\/th><th><strong>Pertimbangan<\/strong><\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td><strong>Cambridge International<\/strong><\/td><td>Jaringan sekolah paling luas di Indonesia, memudahkan perpindahan antarkota. Ketersediaan buku dan bimbingan tambahan paling banyak. Nama paling dikenal.<\/td><td>Pola penilaian umumnya linear, dengan bobot terkonsentrasi di akhir program. Menuntut ketahanan pada satu periode ujian besar.<\/td><\/tr><tr><td><strong>Pearson Edexcel<\/strong><\/td><td>Penilaian modular, beban tersebar sepanjang program. Nilai per unit dapat diperbaiki tanpa mengulang seluruh program. Silabus terstruktur dan dapat diprediksi.<\/td><td>Lebih sedikit sekolah penyelenggara di Indonesia, sehingga perpindahan antar kota lebih terbatas. Sumber bimbingan di luar sekolah juga lebih sedikit.<\/td><\/tr><tr><td><strong>International Baccalaureate<\/strong><\/td><td>Cakupan paling luas. Esai panjang dan teori pengetahuan melatih riset serta menulis akademis sejak dini. Reputasi kuat di universitas selektif.<\/td><td>Beban kerja paling padat. Kewajiban enam bidang studi memberi ruang lebih sempit bagi anak yang ingin melakukan spesialisasi lebih awal. Jumlah sekolah penyelenggara paling terbatas.<\/td><\/tr><tr><td><strong>International Primary Curriculum (IPC)&nbsp;<\/strong><\/td><td>Menggunakan pendekatan melalui pembelajaran tematik (anak belajar beberapa mata pelajaran melalui satu tema. )<\/td><td>Efektivitas IPC juga sangat bergantung pada bagaimana kurikulum tersebut diterapkan oleh sekolah dan guru&nbsp;<\/td><\/tr><tr><td><strong>Montessori Curriculum&nbsp;<\/strong><\/td><td>Menekankan pada kemandirian, pembelajaran melalui pengalaman langsung, dan perkembangan anak sesuai dengan tahapan serta kecepatannya. Anak-anak didorong untuk mengeksplorasi, memilih aktivitas, dan membangun keterampilan praktis, konsentrasi, serta rasa tanggung jawab.&nbsp;<\/td><td>Pendekatan yang berbeda dari kurikulum lainnya,&nbsp; Orang tua perlu melihat apakah ini sesuai dengan karakter dan kebutuhan anak, serta melihat bagaimana sekolah menerapkan prinsip Montessori dalam praktik.&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bagaimana memilih yang sesuai untuk anak?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan yang sangat mendasar dan penting sebenarnya bukan pada &#8220;Kurikulum mana yang terbaik?&#8221; tapi pada &#8221; Anak saya bisa berkembang baik dengan struktur seperti apa?&#8221;. Tiga profil berikut akan memudahkan penilaian.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Anak yang performanya lebih stabil ketika beban dicicil<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian anak bekerja paling baik dengan target bertahap dan umpan balik yang sering. Bagi mereka, penilaian modular meringankan tekanan karena hasil akhir tidak bergantung pada satu periode ujian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak yang mudah cemas menjelang ujian besar juga umumnya terbantu oleh pola ini.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Anak yang justru tampil maksimal pada ujian akhir<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian anak lain justru menemukan ritmenya ketika ada satu tenggat besar di depan. Mereka menyerap materi sepanjang tahun tanpa banyak tertekan, lalu tampil kuat saat ujian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi profil ini, pola linear tidak menjadi beban, dan luasnya jaringan sekolah menjadi nilai tambah yang nyata bila keluarga berpotensi pindah kota.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Anak yang menikmati cakupan luas dan menulis akademis<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak yang senang membaca lintas bidang, betah menulis panjang, dan tidak ingin buru-buru menyempitkan minat akan menemukan struktur IB memuaskan alih-alih membebani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, anak yang sudah jelas arah minatnya sejak dini mungkin merasa kewajiban enam bidang studi menghambat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bagaimana penerapan sistem jenjangnya?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak semua kurikulum internasional memiliki struktur&nbsp; jenjang&nbsp; dan kualifikasi yang sama.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cambridge, Pearson Edexcel dan IB memiliki jenjang akademik sampai usia 16 &#8211; 19 tahun, sedangkan Montessori dan International Primary Curriculum (IPC) lebih fokus pada pendekatan pembelajaran pada jenjang tertentu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut gambaran struktur jenjang untuk Cambridge, Pearson Edexcel dan &nbsp; International Baccalaureate (IB) yang berbeda dengan sistem jenjang di kelas seperti di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th><strong>Jenjang<\/strong><\/th><th><strong>Usia<\/strong><\/th><th><strong>Padanan<\/strong><\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Early Years<\/td><td>2 sampai 5<\/td><td>PAUD dan TK<\/td><\/tr><tr><td>Year 1 sampai 6 (Key Stage 1 dan 2)<\/td><td>5 sampai 11<\/td><td>TK B hingga kelas 5 SD<\/td><\/tr><tr><td>Year 7 sampai 9 (Key Stage 3)<\/td><td>11 sampai 14<\/td><td>Kelas 6 SD hingga kelas 2 SMP<\/td><\/tr><tr><td>Year 10 sampai 11 (IGCSE)<\/td><td>14 sampai 16<\/td><td>Kelas 3 SMP hingga kelas 1 SMA<\/td><\/tr><tr><td>Year 12 sampai 13 (A Level)<\/td><td>16 sampai 18<\/td><td>Kelas 2 hingga 3 SMA<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padanan ini bersifat perkiraan. Sistem Inggris memulai pendidikan formal lebih awal, sehingga anak berusia enam tahun umumnya berada di Year 2, satu tingkat lebih cepat dibanding rekan seusianya di sekolah nasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">IB menggunakan penamaan berbeda, dengan Primary Years Programme, Middle Years Programme, dan Diploma Programme untuk dua tahun terakhir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu hal yang layak diperhatikan saat merencanakan perpindahan: program IGCSE, A Level, dan IB Diploma berjalan dua tahun dengan penilaian yang saling terkait. Berpindah di tengah salah satunya berisiko memaksa anak mengulang.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apakah diakui oleh universitas dalam dan luar negeri?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ya. Ketiga kurikulum di atas diterima oleh universitas di Inggris, Australia, Amerika Serikat, Singapura dan banyak negara lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk universitas Inggris, <a href=\"https:\/\/www.ucas.com\/\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">UCAS<\/a> sebagai jalur pendaftaran resmi dirancang berdasarkan A Level, sehingga nilai peserta didik langsung terbaca tanpa proses konversi. IB Diploma juga memiliki tabel konversi yang mapan dalam sistem yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk perguruan tinggi di Indonesia, ketentuan tiap kampus berbeda dan sebaiknya dikonfirmasi langsung ke universitas yang dituju. Sebagian besar mensyaratkan penyetaraan ijazah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk kuliah S1 di Indonesia,&nbsp; atau Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk kuliah S2 dan S3 di Indonesia. Tanyakan prosedur ini sejak jauh hari, bukan menjelang pendaftaran, karena prosesnya memerlukan waktu.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa yang perlu diperiksa selain kurikulumnya?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nama kurikulum hanya menentukan apa yang dipelajari. Dua hal berikut menentukan bagaimana kurikulum itu benar-benar dijalankan, dan keduanya sering terlewat saat orang tua membandingkan sekolah.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Status penyelenggara ujian resmi<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekolah tidak otomatis boleh menyelenggarakan ujian internasional. Ia harus terakreditasi sebagai <strong>Approved Examination Centre<\/strong> oleh badan kualifikasinya, yang berarti fasilitas, prosedur pengawasan, dan integritas pelaksanaan ujiannya telah diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siswa di sekolah berstatus ini menempuh ujian resmi di kampus sendiri, di ruang dan bersama guru yang mereka kenal. Sekolah tanpa status ini harus menumpang di lokasi lain, yang menambah perjalanan, biaya, dan tekanan pada hari yang sudah cukup menegangkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekolah yang memiliki status sebagai penyelenggara resmi ujian dengan kurikulum internasional, memiliki nomor identitas yang dapat diverifikasi, dan ditemukan dengan mudah dalam laman website resmi mereka. Jadi pertanyaan yang layak Anda ajukan ke sekolah mana pun adalah: Apakah sekolah Anda memiliki status sebagai penyelenggara resmi ujian kurikulum internasional? Kalau ya, berapa nomor identitasnya?<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Struktur biaya, bukan sekadar angka tahunannya<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang sering membuat perhitungan orang tua meleset bukan biaya tahunannya, melainkan komponen di luar itu. Mintalah rincian tertulis yang mencakup:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Biaya pendaftaran, umumnya sekali di awal dan tidak dapat dikembalikan<\/li>\n\n\n\n<li>Biaya tahunan, beserta skema cicilan bila ada<\/li>\n\n\n\n<li>Biaya ujian eksternal, yang biasanya terpisah dan baru muncul di jenjang IGCSE serta A Level<\/li>\n\n\n\n<li>Kegiatan di luar jam sekolah, umumnya sukarela dan berbiaya tambahan<\/li>\n\n\n\n<li>Seragam, buku, dan perjalanan sekolah<\/li>\n\n\n\n<li>Ketentuan diskon saudara kandung, berlaku untuk anak ke berapa dan berapa persentasenya<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Minta seluruhnya untuk satu tahun penuh. Selisih antara biaya tahunan pokok dan total sesungguhnya bisa cukup besar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Kurikulum Internasional di Indonesia<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apa saja kurikulum internasional yang ada di Indonesia?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada tiga yang utama. Cambridge International dan Pearson Edexcel sama-sama berakar pada sistem Inggris dengan jenjang IGCSE dan A Level, sementara International Baccalaureate menempuh pendekatan lebih luas melalui Diploma Programme. Sebagian sekolah juga mengombinasikan kurikulum nasional Indonesia dengan salah satu di antaranya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apa bedanya sekolah internasional dan sekolah nasional plus?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekolah internasional menjalankan kurikulum asing secara penuh dengan penilaian dari lembaga luar negeri. Sekolah nasional plus menjalankan kurikulum nasional Indonesia lalu menambahkan unsur internasional di atasnya. Perbedaannya terlihat pada ijazah akhir: kualifikasi asing versus ijazah nasional dengan sertifikat internasional sebagai pelengkap.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apakah lulusan kurikulum internasional bisa masuk universitas negeri di Indonesia?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisa. Ketentuan tiap kampus berbeda dan sebaiknya dikonfirmasi langsung ke universitas yang dituju. Sebagian besar mensyaratkan penyetaraan ijazah melalui kementerian yang menangani urusan pendidikan, dan proses ini memerlukan waktu sehingga sebaiknya ditanyakan jauh sebelum masa pendaftaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apa itu penilaian modular dan linear?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Modular berarti ujian dipecah menjadi beberapa unit yang dapat diselesaikan pada waktu berbeda sepanjang program, sehingga beban tersebar. Linear berarti sebagian besar penilaian terkonsentrasi pada periode ujian di akhir. Pearson Edexcel menyediakan pola modular, sementara Cambridge umumnya linear.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Usia berapa sebaiknya anak mulai masuk kurikulum internasional?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semakin dini semakin ringan penyesuaian bahasanya, dan jenjang Early Years hingga Primary awal adalah titik masuk paling mulus. Perpindahan pada jenjang menengah tetap mungkin, tetapi sebaiknya dihindari di tengah program IGCSE, A Level, atau IB Diploma karena penilaiannya berjalan dua tahun dan saling terkait.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kesimpulan: Memilih Kurikulum Berdasarkan Cara Anak Belajar<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah semua perbandingan di atas, satu hal yang layak dilepaskan adalah anggapan bahwa ada kurikulum yang secara objektif lebih unggul. Ketiganya diakui universitas yang sama, dan tidak ada bukti bahwa salah satunya menghasilkan lulusan yang lebih siap.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang benar-benar berbeda adalah bentuk tekanannya. Modular menyebar beban sepanjang program, linear memusatkannya di akhir, dan IB menambah luas cakupan sebagai gantinya. Anak yang sama bisa berkembang di satu struktur dan tertekan di struktur lain, dan itulah variabel yang sebenarnya sedang Anda pilih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, riset dokumen hanya membawa Anda sampai titik tertentu. Setelah pilihan menyempit menjadi dua atau tiga sekolah, yang tersisa adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab brosur: apakah anak Anda merasa betah di ruangannya, dan apakah gurunya mengenalnya sebagai pribadi. Untuk itu Anda perlu datang, dan sebaiknya pada hari sekolah biasa.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Menjadwalkan kunjungan kampus<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jogjakarta Community School menerima kunjungan pada hari sekolah biasa, dan setiap calon peserta didik menjalani <a href=\"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/enquire\">masa percobaan tiga hari sebelum pendaftaran<\/a>. Tiga hari di kelas biasanya menjawab keraguan yang tidak terjawab oleh riset sebanyak apa pun.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Email:<\/strong> info@jogjacommunityschool.org<\/li>\n\n\n\n<li><strong>WhatsApp atau telepon:<\/strong> +62 811 257 6164<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Alamat:<\/strong> Jl Watugede, Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 55581<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekolah internasional di Indonesia telah berkembang jauh dari tujuan awalnya, yaitu&nbsp; untuk melayani keluarga asing yang tinggal di Indonesia. Kini,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":32,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-28","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kurikulum-pembelajaran"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":77,"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28\/revisions\/77"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjacommunityschool.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}